You are currently viewing Kajian Akademik Kurikulum Merdeka: Kerangka Kurikulum dan Capaian Pembelajaran
Kurikulum Merdeka, Apa itu Kurikulum Merdeka, Kurikulum Merdeka Adalah, Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, P5 Kurikulum Merdeka

Kajian Akademik Kurikulum Merdeka: Kerangka Kurikulum dan Capaian Pembelajaran

Pabrik Sampul Raport.com – Kajian Akademik Kurikulum Merdeka: Kerangka Kurikulum dan Capaian Pembelajaran

Mengapa Kurikulum Perlu Berubah?

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas tentang apa itu Kurikulum Merdeka, latar belakang, dan prinsip perancangan Kurikulum Merdeka yang pertama kali diperkenalkan padah tahun 2021. (Baca juga: Apa itu Kurikulum Merdeka). 

Kurikulum disusun sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional. Agar kurikulum relevan dengan perkembangan jaman dan tuntutan masa depan yang lebih kompleks, maka kurikulum pun perlu mengalami perubahan.

Kurikulum Merdeka mengedepankan pengembangan soft skill peserta didik agar mereka mampu beradaptasi dengan tantangan di masa mendatang. Diharapkan output dari pembelajaran peserta didik lebih kompeten, menguasai keterampilan teknologi, lebih kreatif, mampu berkolabori.

Banyak perubahan yang terdapat pada Kurikulum Merdeka dari kurikulum yang dijalankan sebelumnya. Bila kurikulum K13 terlalu sentralistrik, maka pada Kurikulum Merdeka mengadopsi kembali aturan yang berlaku pada Kurikulum KBK/KTSP yang saat ini disebut dengan Kurikulum Operasional.

Pemerintah melalui Kemendikbudristek memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum operasional. Kurikulum operasional ini harus bersifat dinamis, yang artinya dapat diubah sesuai perkembangan zaman dan obyeknya belajarnya disesuaikan dengan geografis dan social kemasyarakatan tempat peserta didik tinggal.

Kurikulum dirancang untuk kebutuhan peserta didik, sehingga kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan konteks dan kebutuhan peserta didik untuk memiliki dan menguasai kompetensi yang dibutuhkan saat ini dan masa yang akan datang. Agar kurikulum dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu adanya dukungan nyata dari lingkungan di sekeliling peserta didik, yakni orang tua, masyarakat, dan satuan pendidikan.

Setelah kita membahas tentang Prinsip Perancangan Kurikulum Merdeka, pada artikel ini kita akan membahas dua topik utama, yakni tentang Kerangka Kurikulum dan Pencapaian Pembelajaran.

Kerangka Kurikulum Merdeka

­­Kurikulum terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. Kerangka kurikulum menjadi rancangan landasan utama dalam pengembangan struktur kurikulum. Kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum menjadi landasan bagi pengembangan kurikulum operasional satuan pendidikan. Hal ini dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, maka perancangan kurikulum harus sesuai dengan tujuan kurikulum itu sendiri, yakni pembelajaran yang diselenggarakan mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kerangka dasar dan struktur kurikulum perlu dirancang secara sentralistrik dan dikembangkan secara desentralistik di satuan pendidikan. Namun demikian, kurikulum nasional dan kurikulum operasional harus selaras dan benar-benar dipahami oleh peserta didik. Dimana capaian keberhasilan pembelajaran nantinya dapat diketahui melalui asesmen, baik asesmen formatif dan juga penilaian sumatif.

Valverde, et.al (2002) dalam bukunya According to The Book: Using TIMSS to Investigate the Translation of Policy into Practice Through the World of Textbooks menjelaskan bahwa ada 4 (empat) tingkatan dalam merancang dan mengembangkan kurikulum. Keempat tingkatan kurikulum tersebut yaitu:

Pertama, Intended Curriculum atau kurikulum yang diharapkan. Yang dimaksud dalam tingkatan ini adalah kebijakan pemerintah tentang standar dana pedoman yang resmi dipublikasikan dan berkaitan dengan apa yang perlu dipelajari oleh peserta didik, bagaimana cara mereka mempelajarinya, serta membuktikan bahwa mereka telah mempelajarinya.

Kedua, Potentially Implemented Curriculum. Kurikulum yang potensial untuk diimplementasikan. Tahapan Ini merupakan pengembangan yang dilakukan Valverde, et.al yang menambahkan tingkatan ini diantara kurikulum yang diharapkan dan kurikulum yang diimplementasikan. Yang termasuk dalam tingkatan kurikulum ini antara lain buku teks pelajaran dan juga perangkat ajar.

Ketiga, Implemented Curriculum atau Kurikulum yang diimplementasikan. Hal ini terkait bagaimana kurikulum yang resmi diberlakukan oleh pemerintah diinterpretasikan dan diajarkan kepada peserta didik di lingkup satuan pendidikan.

Keempat, Attained Curriculum/Achieved Curriculum atau Kurikulum yang Dipelajari Siswa. Tingkatan ini menunjukkan output peserta didik, yakni kompetensi yang dimiliki peserta didik setelah mereka menerima pembelajaran menggunakan dengan kurikulum yang berlaku.

Dari penyusunan keempat tingkatan kurikulum tersebut, akan tampak dimana keselaran dan dimana ada ketimpangan antara kurikulum yang diharapkan dengan kurikulum yang dijalankan, serta menganalisis poin-poin yang menyebabkan distorsi terjadi.

Yang harus dilakukan oleh para perancang kurikulum adalah, memastikan agar apa yang dituangkan dalam Intended curriculum benar-benar diterima oleh peserta didik.

Sesuai prinsip perancangan kurikulum, kerangka kurikulum harus mengikuti prinsip fleksibilitas. Oleh karenanya, kerangka kurikulum ditetapkan secara nasional dan bersifat memandu, sedangkan struktur kurikulum diatur dengan sangat umum agar satuan pendidikan lebih fleksibel dan leluasa dalam mengembangkan kurikulum operasional sesuai dengan konteks dan kebutuhan belajar peserta didik.

Pada Kurikulum Merdeka, pemerintah menetapkan Profil Pelajar Pancasila, Capaian Pembelajaran, Struktur Kurikulum, Prinsip Pembelajaran dan Asesmen sebagai Intended Curriculum. Profil Pelajar Pancasila sebagai sintesis dari tujuan pendidikan nasional, visi dari pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, serta pandangan dari para pendiri bangsa. Sedangkan ketiga komponen lainnya merupakan turunan dari Tujuan Pendidikan Nasional (UU No.20 Tahun 2003).

Kerangka inilah yang menjadi rujungan rancangan Kurikulum Merdeka, yang didalamnya selaras antara kurikulum nasional dan kurikulum operasional. Perangkat ajar, yang termasuk dalam kurikulum yang berpotensi untuk diimplementasikan menjadi penghubung antara keduanya. Dalam Kurikulum Merdeka, yang termasuk dalam perangkat ajar yaitu: Buku teks siswa, buku panduan guru, contoh modul ajar, contoh silabus, contoh panduan proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5), contoh kurikulum operasional, contoh asesmen kelas, contoh mekanisme pengaturan mata pelajaran untuk kelas XI dan XII.

Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran (CP) adalah kompetensi minimum yang harus dicapai peserta didik untuk setiap mata pelajaran yang perancangannya mengacu pada Standar Kompetensi Lulus dan Standar Isi. Capaian Pembelajaran merupakan perubahan dan pembaharuan dari Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar pada Kurikulum 2013. Pembaharuan capaian pembelajaran terus dilakukan untuk menguatkan pembelajaran yang berfokus pada pengembangan kompetensi peserta didik. Pada Capaian Pembelajaran kurikulum Merdeka, strategi untuk mencapai tersebut adalah mengurangi cakupan materi dan perubahan tata penyusunan capaian yang menekankan pada fleksibilitas pembelajaran.

Pengurangan Konten

Hasil penelitian Pritchett & Beatty (2015) yang dituangkan dalam jurnal berjudul: Slow down, you’re going too fast: Matching curricula to student skill levels (International Journal of Educational Development), menunjukkan bahwa di beberapa negara termasuk Indonesia, materi pelajaran terlalu banyak dan penilaian kinerja guru ditentukan dari ketuntasan mengajarkan semua materi pelajaran tersebut. Alhasil, guru tergesa-gesa dalam menyampaikan dan menyelesaikan seluruh materi tanpa memperhatikan serapan peserta didik dan memahami materi tersebut. Padahal dalam materi tersebut terdapat materi dan konsep-konsep penting yang harus dipahami siswa secara mendalam.

Dari hasil penelitian tersebut, terungkap juga bahwa pada kelas awal di jenjang sekolah dasar siswa sulit memahami konsep, sehingga berlanjut hingga jenjang berikutnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa materi pelajaran yang terlalu padat malahan membuat peserta didik tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang lebih tinggi.

Contoh riil pengurangan konten pada Kurikulum Merdeka ini adalah pada Capaian Pembelajaran Biologi pada jenjang sekolah menengah (SMA/Fase F). Ada beberapa materi yang dikurangi karena terlalu banyak dan terlalu rinci. Agar relevan dengan teknologi dan tantangan di masa mendatang, maka ditambahkan materi Nanoteknologi dan Radioaktivitas pada CP Kimia SMA/MA.

Pengurangan konten tidak berarti capaian yang ditetapkan lebih rendah, lebih dari itu, dengan pengurangan konten maka kurilum dapat difokuskan pada mata pelajaran esensial yang dapat dipelajari dengan lebih leluasa. Dengan demikian, peserta didik dalam memahami suatu konsep secara mendalam, dan dapat melihat keterkaitan antara saru konsep dengan konsep lainnya. Hingga mengaplikasikan konsep tersebut ke dalam dunia nyata dan kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran secara Konstruktif.

Pembelajaran secara konstruktif adalah menempatkan peserta didik sebagai pelaku pembelajaran (student as agents) bukan sebagai penerima informasi saja (students as recipients). Sesuai katanya, konstruktif atau constructivist learning, adalah dimana peserta didik belajar untuk membangun atau mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman nyata. Karena pengetahuan bukan semata kumpulan fakta dan konsep untuk diingat dan dihafalkan. Melalui pengalaman nyata, peserta didik merasakan sendiri,  dan membuat pengalaman untuk dirinya. Pengalaman-pengalaman yang dialami peserta didik akan membentuk pemahaman tentang konsep-konsep, yang akan diikuti dengan pemahaman konsep baru ketika pengalaman belajar mereka bertambah. Inilah yang dinamakan dengan pemahaman yang mendalam dan bermakna, serta dinamis, belajar melalui pengalaman nyata, bukan sekedar mendengar dan mengumpulkan informasi, yang akhirnya hanya menjadi pemahaman abstrak dan statis saja.

Dengan memperhatikan kelebihan dari pembelajaran konstruktif di atas, maka CP yang dirancang harus memperhatikan dan mengutamakan kompetensi yang perlu dicapai tanpa mengikat konteks dan konten pembelajarannya.

Capaian Pembelajaran dikembangkan berdasarkan teori konstuktivisme, sehingga penjabaran dalam dokumen  CP pelu menggunakan pendekatan yang sama. Makna pemahaman dalam Capaian Pembelajaran juga sesuai dengan teori konstruktivisme, yakni pemahaman dicapai melalui kemampuan mengaplikasikan dan menganalis suatu konsep.

Taksonomi Bloom dalam perancangan CP kurikulum merdeka lebih khusus pada perancangan pembelajaran harian dan asesmen kelas.  Sesuai dengan pendapat Andeson, et.al (2001) dalam buku A taxonomy for learning, teaching, and assessing : a revision of Bloom’s taxonomy of educational objectives, bahwa taksonomi Bloom relevan digunakan untuk mengembangkan kurikulum di tingkat satuan pendidikan, bukan di kurikulum nasional. Hal ini dikarenakan Taksonomi Bloom dapat digunakan untuk menginterpretasikan standar ke dalam bahasa yang lebih operasional untuk digunakan sehari-hari.

Penggunaan Fase

Jika pada Kurikulum K13 digunakan KI-KD, maka pada Kurikulum Merdeka Capaian Pembelajaran dirancang berdasarkan Fase. Fase pendidikan dalam Kurikulum Merdeka dibagi menjadi 7, yakni:

  1. Fase Fondasi, dicapai di akhir PAUD,
  2. Fase A, digunakan untuk kelas 1  sampai kelas 2 SD/sederajat,
  3. Fase B, digunakan untuk kelas 3 sampai kelas 4 SD/sederajat,
  4. Fase C, digunakan untuk kelas 5 sampai kelas 6 SD/sederajat,
  5. Fase D, digunakan untuk kelas 7 sampai kelas 9 SMP/sederajat,
  6. Fase E, digunakan untuk kelas 10 SMA/sederajat.
  7. Fase F, digunakan untuk kelas 11 sampai kelas 12 SMA/sederajat.

Pada jenjang SMA, dibagi ke dalam dua Fase, yakni Fase E dan Fase F. Hal ini dikarenakan mulai kelas 11 peserta didik menentukan mata pelajaran berdasarkan minat dan bakat, sehingga struktur kurikulumnya berbeda sejak kelas 11.

Kelebihan dari penggunakan Fase yang diselaraskan dengan teori perkembangan anak ini adalah target capaian kompetensi dicapai dengan rentang waktu tertentu, tidak harus satu tahun, tapi beberapa tahun. Kecuali pada Fase E, dengan alasan seperti dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Dengan rentang yang lebih panjang, materi pembelajaran tidak terlalu padat, dan peserta didik dapat memahami pembelajaran dengan lebih mendalam dan bermakna, serta dapat mengembangkan kompetensi dengan lebih baik.

Perumusan Capaian Pembelajaran

Pada Kurikulum K13 KI-KD yang disusun dalam kalimat tunggal dan dijabarkan dengan poin-poin. Namun pada Kurikulum Merdeka, CP disampaikan dalam bentuk yang berbeda. Dalam penulisan CP, pemahaman, sikap terharap pembelajaran dan pengembangan karakter, serta keterampilan yang terobservasi dan terukur ditulis sebagai suatu rangkaian. Hal ini sesuai dengan pemahaman tentang kompetensi yang bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan, namun juga kemampuan dalam mengolah dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan, serta sikap yang telah dipelajari dalam menghadapi situasi dan permasalahan yang kompleks.

Dengan demikian, CP diharapkan dapat memperlihatkan secara nyata rangkaian dan keterkaitan proses belajar suatu konsep ilmu pengetahuan sejak tahapan ‘memahami’ hingga mengolah serta menggunakan konsep ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai tuntutan kognitif yang lebih kompleks.

Penulisan Struktur CP tidak terpisah berdasarkan domain pemahaman, sikap, dan keterampilan, namun berdasar pada kompetensi atau konsep yang esensial dari setiap mata pelajaran. Dalam kurikulum Merdeka, kompetensi dan konsep ini sebut elemen-elemen yang menjadi ciri khas dari seiap mata pelajaran. Elemen tersebut kemudian yang dinyatakan perkembangannya dari fase ke fase selanjutnya.

Fleksibilitas Pembelajaran

Fleksibilitas sangat penting bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran, hal ini agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk membangun konsep pengetahuan dari materi pelajaran dengan situasi lingkungan di sekitarnya.

Untuk pengetahui tingkat fleksibilitas Capaian Pembelajan, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemenristek bersama Pakar pendidikan melakukan analisis kuantitatif (menghitung proporsi target kompetensi dari masing-masing kurikulum) terhadap keterkaitan KI-KD dan CP, terkait dengan tahap perkembangan pembelajaran dan fleksibilitasnya untuk dikembangkan sesuai dengan konteks local satuan pendidikan.

Dari hasil analisis diketahui bahwa CP lebih sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik dan lebih fleksibel daripada KI-KD.

Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Selain berdasarkan hasil analisis kuantitatif yang dilakukan Kementrian bersama para pakar pendidikan, dilakukan juga diskusi kelompok bersama guru PSP yang mulai menerapkan kurikulum Merdeka sejak 2021/2022.

Berdasarkan pengamatan para guru ini, kurikulum Merdeka lebih memiliki kelebihan dari kurikulum K13 yang digunakan sebelumnya, kshususnya Capaian pembelajaran yang lebih relevan dengan konteks zaman dan tingkat perkembangan berpikir peserta didik. Guru lebih leluasa mengeksplorasi capaian pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhna siswa, kearifan local, serta situasi masyarakat setempat tempat peserta didik belajar.

Namun demikian, perlu dilakukan adaptasi dalam mengimplementasikan kurikulum yang baru. Terlebih sebelumnya terbiasa dengan KI-KD yang harus selesai dalam satu tahun, sekarang menyusun CP berdasarkan fase. Feedback ini digunakan sebagai landasan perbaikan strategi implementasi kurikulum di tingkat satuan pendidikan.

Leave a Reply