You are currently viewing PABRIK SAMPUL RAPORT: K13 DAN KURIKULUM MERDEKA
cetak sampul raport, percetakan sampul raport, harga sampul raport, pabrik sampul raport, pesan sampul raport, pusat sampul raport, produsen map raport

PABRIK SAMPUL RAPORT: K13 DAN KURIKULUM MERDEKA

Pabrik Sampul RaportMembicarakan raport yang merupakan bentuk dokumentasi akhir dari pengolahan hasil belajar peserta didik dari setiap semester, maka tidak dapat dipisahkan dari standar penilaian pendidikan yang berlaku di Indonesia. Dan standar penilaian tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran itu sendiri, yang dimulai dari standar isi dan standar proses pendidikan. Dan lingkup terbesar yang menaungi standar isi hingga standar penilaian adalah kurikulum.

Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka

Kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini adalah ada 2, yakni Kurikulum 2013 atau sering disebut K13, dan Kurikulum Merdeka.

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 sendiri merupakan kurikulum yang berlaku sejak tahun 2013/2014 yang dikembangkan dengan memenuhi dua dimensi kurikulum, yakni rencana dan pengaturan meliputi tujuan, isi, dan bahan ajar disertai dengan cara atau metode yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

Secara umum seperti kurikulum sebelumnya, kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu menjadi manusia yang lebih unggul sesuai dengan perkembangan jaman. Bukan hanya dari sisi kognitif saja, namun juga secara spiritual dan sikap. Dan inilah yang secara khusus menjadi tujuan dari pelaksanaan Kurikulum 2013, yakni mempersiapkan peserta didik agar nantinya memiliki kemampuan hidup sebagai warga Negara yang beriman, produktif, kreatid, inovatif, dan efektif serta mampu berkontrbusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Karakteristik dari Kurikulum 2013 yakni:

  1. Pengembangan Kompetensi Peserta Didik yang berimbang antara sikap spiritual dan social, pengetahuan dan keterampilan. Dan peserta didik diharapkan mampu menerapkannya dalam berbagai situasi, baik dalam sekolah maupun dalam bermasyarakat.
  2. Kontekstualisasi Sekolah, dimana sekolah menjadi bagian dari masyarakat yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik. Pada akhirnya, timbul timbal balik dimana peserta didik mampu mengimplementasikan apa yang dipelajari disekolah ke dalam masyarakat, dan memanfaatkan kegiatan dalam masyarakat sebagai sumber belajar.
  3. Kurikulum 13 menjadi kurikulum yang dapat memberikan waktu yang leluasa bagi peserta didik dalam mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
  4. Kompetensi yang Rinci, dimana terdapat empat kompetensi inti (KI) yang menjadi tujuan akhir pembelajaran, yakni KI Sikap Spiritual, KI Sikap Sosial, KI Pengetahuan, dan KI Keterampilan.
  5. Kompetensi Inti sebagai unsur pengorganisasi Kompetensi Dasar. Sehingga semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan unuk mencapai kompetensi inti.
  6. Kompetensi Dasar dikembangkan berdasarkan pada prinsip akumulatif dan memperkuat serta memperkaya antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan.

Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka dikembangkan untuk memberikan keleluasaan kepada pendidik dalam menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik.

Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) secara lengkap diatur dalam Permendikbudristek No. 262/M/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Mendikbudristek No. 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Sehingga dapat dikatakan bahwa IKM disempurnakan dari peraturan sebelumnya yang merupakan Kurikulum Darurat dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran.

Terdapat tiga poin penting yang menjadi karakteristik dari Kurikulum Merdeka ini, yakni:

  1. Pengembangan Soft Skill dan Karakter. Pengembangan kedua kemampuan ini dijalankan melalui projek penguatan profil belajar Pancasila.
  2. Kurikulum Merdeka berfokus pada materi esensial, relevan, dan mendalam. Dengan demikian terdapat waktu yang cukup bagi pendidik untuk membangun dan mengembangkan kreativitas dan inovasi peserta didik dalam mencapai kompetensi dasar.
  3. Pembelajaran yang Fleksibel. Dengan demikian guru leluasa untuk melakukan pembelajaran ng sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan peserta didik. Guru juga dapa melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan konteks dan muatan local.

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka

Projek penguatan profil pelajar Pancasila menjadi salah satu hal yang belum ada pada kurikulum sebelumnya, yakni kurikulum 13. Projek ini merupakan kegiatan kokurikuler yang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk:

  1. Mengeksplorasi ilmu pengetahuan, mengembangkan keterampilan, serta memperkuar pengembangan enam dimensi profil pelajar Pancasila.
  2. Mempelajari secara mendalam tema dan atau isu penting dalam masyarakat, seperti toleransi, gaya hidup berkelanjutan, kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi, dan kehidupan berdemokrasi.
  3. Melakukan aksi nyata sebagai respon terhadap isu-isu tersebut sesuai degnan perkembangan dan tahapan belajar peserta didik.

Implementasi Kurikulum Merdeka Secara Mandiri pada Satuan Pendidikan

Dari uraian situs Kemendikbudristek, dijelaskan bahwa terdapat 3 pilihan bagi Satuan Pendidikan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara mandiri, yakni:

  1. Mandiri Belajar: Satuan Pendidikan dapat menggunakan struktur Kurikulum 2013 dalam mengembangkan kurikulum satuan pendidikan dan menerapkan beberapa prinsip kurikulum Merdeka dalam pelaksanaan pembelajaran dan penilaian di satuan pendidikannya.
  2. Mandiri Berubah: Satuan Pendidikan menggunakan struktur Kurikulum Merdeka dalam mengembangkan kurikulum satuan pendidikannya dan menerapkan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dalam melaksanakan pembelajaran dan penilaian.
  3. Mandiri Berbagi: Satuan Pendidikan menggunakan struktur Kurikulum Merdeka dalam mengembangkan kurikulum satuan pendidikannya dan menerapkan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dalam melaksanakan pembelajaran dan penilaian, dengan komitmen untuk membagikan praktik-praktik baiknya kepada satuan pendidikan lainnya.

Perbandingan antara Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka

Memperbandingkan kedua kurikulum yang masih dijalankan saat ini oleh Satuan Pendidikan, maka dapat kita lihat dari beberapa sudut pandang, yakni kerangka dasarnya, kompetensi yang akan dicapai, struktur kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, dan perangkat bahan ajar yang disediakan oleh pemerintah. Mari kita kaji perbandingan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka dari keenam hal tersebut.

Kerangka Dasar Pelaksanaan Kurikulum

Kurikulum 2013 dirancang dengan landasan utama Tujuan Sisdiknas dan Standar Nasional Pendidikan. Sedangkan Kurikulum Mereka selain rancangan pelaksanaannya berlandaskan pada  tujuan sisdiknas dan standar nasional pendidikan, juga berlandaskan pada mengembangkan profil belajar pancasila pada peserta didik.

Kompetensi yang Dituju

Pada kurikulum 2013, Kompetensi dasar dinyatakan secara terpisah dan dikelompokkan kedalam empat ranah kompetensi inti, yakni sikap spiritual, sikap social, pengetahuan kognitif, dan keterampilan. Kompetensi dasar dan kompetensi ini dimaksudkan untuk mencapai standar isi. Kompetensi dasar kemudian dinyatakan dalam bentuk poin dan diurutkan untuk mencapai KI yang disusun per tahun.

Pada Kurikulum Merdeka, Capaian pembelajaran disusun per fase, dimana Capaian pembelajaran dinyatakan dalam paragraph yang merangkaikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mencapai, menguatkan, dan meningkatkan kompetensi. Pembagian Fase capaian pembelajaran pada kurikulum Merdeka dibagi berdasarkan jenjang pendidikan, yakni: (i) PAUD: 1 fase yaitu Fase Pondasi, (ii) SD/Sederajat: Fase A, B, dan C, (iii) SMP/sederajat: Fase D, dan (iv) SMA/Sederajat: Fase E dan F.

Struktur Kurikulum

Pada Kurikulum 2013, Jam Pelajaran diatur per minggu. Alokasi waktu pembelajaran diatur oleh satuan pendidikan setiap minggu dalam satu semester, hingga pada setiap semester peserta didik akan mendapatkan hasil belajar setiap mata pelajaran. Sedangkan pada Kurikulum Merdeka jam pelajaran diatur per tahun. Dengan demikian satuan pendidikan dapat mengatur alokasi waktu pembelajaran yang lebih fleksibel untuk mencapai jam pelajaran yang telah ditetapkan.

Pendekatan pembelajaran pada K13 menggunakan pembelajaran berbasis mata pelajaran untuk jenjang menengah dan pendekatan tematik integrative untuk jenjang sekolah dasar dan sederajat. Sedangkan pada Kurikulum Merdeka, satuan pendidikan dari semua jenjang dapat menggunakan pendekatan pengorganisasian pembelajaran berbasis mata pelajaran, tematik, ataupun terintegrasi.

Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran pada K13 hanya menggunakan satu pendekatan yaitu pendekatan saintifik untuk semua mata pelajaran. Sedangkan pada Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada penguatan pembelajaran terdiferensiasi sesuai tahap capaian pesertta didik.

Pada kurikulum 2013 pembelajaran terfokus pada kegiatan atap muka atau intrakurikuler, dan kegiatan kokurikuler maksimum 50% di luar jam tatap muka. Sedangkan pada Kurikulum Merdeka kegiatan intrakurikuler mengambil bagian sebanyak 70-80% dari keseluruhan jam belajar, dengan kegiatan kokurikuler yang telah direncanakan secara khusus, yakni dengan projek penguatan profil pelajar pancasila yang mengambil bagian 20-30% dari seluruh jam pelajaran.

Penilaian

Pada Kurikulum 203 penilaian dibagi dalam 3 ranah, yakni penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pada Kurikulum Merdeka, tidak adal pemisahan antara penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Penilaian formatif dan sumatif yang digunakan pada K13 dimaksudkan untuk memantau kemajuan belajar dan hasil belajar peserta didik, dan mendeteksi apabila ada kebutuhan perbaikan hasil belajar secara berkesinambungan. Sedangkan pada kurikulum Merdeka, penilaian lebih ditekan pada penilaian formatif dan penggunaan hasil penilaian terebut untuk merancang pembelajaran selanjutnya sesuai dengan tahap capaian peserta didik.

Pelaksanaan penilaian autentik dilaksanakan pada Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Namun pada Kurikulum Merdeka, penguatan pelaksanaan penilaian autentik diutamakan pada projek penguatan profil pelajar Pancasila.

Perangkat Ajar yang Disediakan Pemerintah

Pemerintah memfasilitasi adanya buku teks dan buku non-teks baik dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 dan juga Kurikulum Merdeka. Namun pada kurikulum terbaru, diberikan juga contoh-contoh modul ajar, alur tujuan pembelajaran, contoh projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan juga contoh kurikulum operasional satuan pendidikan.

Perangkat Kurikulum

Perangkat yang disediakan pada Kurikulum 2013 meliputi: Pedoman Implementasi Kurikulum, Panduan Penilaian, dan Panduan Pembelajaran setiap jenjang.

Perangkat Kurikulum yang disediakan untuk pendidik dan satuan pendidikan lebih lengkap, meliputi:

  1. Panduan Pembelajaran dan Asesmen, panduan pengembangan kurikulum operasional sekolah, panduan pengembangan projek penguatan profil pelajar Pancasila
  2. Tersedia panduan untuk guru dalam memilih dan mengembangkan media dan metode pembelajaran yang sesuai khusus bagi satuan pendidikan khusus, meliputi: Panduan Asesmen dan Pembelajaran, panduan pengembangan kurikulum operasional sekolah, panduan pelaksanaan pendidikan inklusif, panduan penyusunan program pembelajaran individual.

Kurikulum Merdeka : Kurikulum yang Tepat untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Siswa

Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum terbaru yang berlaku sejak 2022 telah diimplementasikan lebih dari 140 ribu sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. Dilansir dari halaman publikasi pada situs kemendikbud, dalam webinar Silaturahmi Merdeka Belajar, dijelaskan bahwa penekanan kurikulum merdeka adalah pada perubahan proses belajar, dimana penuntasan penyampaian materi kepada anak adalah sebagai sebuah pelayanan kepada peserta didik, sehingga setiap peserta didik dapat menemukan cara terbaik  bagi dirinya untuk tumbuh dan berkembang.

Sebuah testimoni disampaikan oleh salah satu guru yang telah mengimpementasikan Kurikulum Merdeka di sekolahnya. Taman Firdaus, seorang guru dari SMAN 1 Bima, Nusa Tenggara Barat menyampaikan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada guru untuk merencanakan pembelajaran yang bermakna pada murid.

Permendikbud No 21 Tahun 2022: Peraturan Terbaru tentang Standar Penilaian Pendidikan Usia Dini hingga Pendidikan Menengah.

Kegiatan pembelajaran siswa dimulai dari perencanaan, desain pembelajaran, proses pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan penilaian hasil belajar.  Penilaian Pendidikan sendiri diatur dalam Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022, yang secara mendetail mengatur tentang Standar Penilaian Pendidikan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Dengan berlakunya peraturan ini, maka aturan sebelumnya, yakni Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tidak berlaku lagi.

Dalam Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022 disebutkan bahwa Standar Penilaian Pendidikan merupakan kriteria minimal mengenai mekanisme penilaian hasil belajar peserta didik. Sedangkan Penilaian didefinisikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar dan capaian perkembangan atau hasil belajar peserta didik.

Dalam pelaksanaannya, penilaian hasil belajar ini harus dilaksanakan sesuai dengan tujuan penilaian secara berkeadilan, objektif, dan edukatif. Dari ketiga komponen pelaksanaan penilaian hasil belajar tersebut, berkeadilan dimaksudkan bahwa penilaian tidak boleh bias oleh latar belakang, identitas, dan kebutuhan khusus. Sedangkan penilaian dilaksanakan secara obyektif, bahwa penilaian harus berdasarkan informasi faktual atas pencapaian perkembangan atau hasil belajar peserta didik. Dengan demikian guru sebagai pendidik tidak boleh menilai atas dasar suka dan tidak suka atau kepentingan subjektif lainnya.

Penilaian dilakukan secara edukatif, yang dimaksud adalah penilaian yang hasilnya dapat digunakan sebagai umpan balik bagi pendidik, peserta didik, dan orangutan untuk meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar. Dengan demikian, penilaian pembelajaran dapat berfungsi sebagai alat untuk melakukan evaluasi pembelajaran.

Pada pasal 3 Permendikbud No.21  Tahun 2022 disebutkan bahwa Prosedur Penilaian hasil belajar peserta didik meliputi beberapa aspek, yakni: perumusan tujuan penilaian, pemilihan dan pengembangan instrument penilaian, pelaksanaan penilitian, pengolahan hasil penilaian, dan pelaporan hasil penilaian yang semua aspek tersebut harus disesuaikan dengan karateristik jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan.

Pemilihan instrumen pendidikan harus mempertimbangkan karakteristik kebutuhan peserta didik dan berdasarkan rencana penilaian yang termuat dalam perencanaan pembelajaran. Pelaksanaan penilaian hasil belajar ini dapat dilakuakn sebelum, pada saat, dan setelah pembelajaran. Hal ini disebutkan pada pasal 5 dan 6 Permendikbudristek No.21 Tahun 2022.

Berdasarkan aturan pada pasal 8, dapat diketahui bahwa Pelaporan hasil penilaian dituangkan dalam bentuk laporan kemajuan belajar yang disusun berdasarkan pengolahan hasil penilaian. Laporan hasil belajar ini minimal harus memuat informasi mengenai pencapaian hasil belajar peserta didik. Khusus untuk PAUD, laporan hasil belajar juga harus memuat informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan anak. Laporan hasil belajar ini nantinya dituangkan dalam bentuk raport/ rapor dan bentuk laporan hasil penilaian lainnya.

Bentuk penilaian hasil belajar secara khusus dijelaskan pada pasal 9, dimana penilaian hasil belajar peserta didik dibagi menjadi 2, yakni penilaian formatif dan penilaian sumatif.

Penilaian formatif dilakukan pada jenjang pendidikan anak usia dini hingga jenjang pendidikan menengah, dan betujuan untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan serta mengevaluasi pencapaian pembelajaran.

Penilaian formatif dilaksanakan dengan mengumpulkan informasi mengenai peserta didik yang mengalami kesulitan selama pembelajaran dan perkembengan belajar peserta didik. Dari informasi tersebut, nantinya digunakan sebagai bahan evaluasi maupun feedback bagi peserta didik dan juga pendidik. Bagi peserta didik utamanya adalah untuk mengembangkan kemampuan dan kemajuan belajar sebagai bagian dari keterampilan belajar sepanjang hayat. Bagi pendidik penilaian formatif dapat digunakan untuk merefleksikan dan meningkatkan kreativitas serta efektivitas pembelajaran.

Penilaian Sumatfi dilaksanakan pada jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menengah. Penilaian ini ditujukan untuk menilai pencapaian hasil belajar peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dan juga kelulusan dari satuan pendidikan. Penilaian sumatif dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.

RAPOR PADA IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Rapor sebagai hasil pengolahan hasil asesmen diatur dalam Permendikbudristek Nomor 262/M/2022 Bab III Tentang Pembelajaran dan Asesmen. Pada bab III ini dijelaskan bahwa Asesmen sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik harus memenuhi prinsip-prinsip berikut:

  1. Asesmen atau penilaian merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, fasilitasi pembelajaran, dan penyediaan informasi yang holistic, sebagai umpan balik untuk pendidik, peserta didik, dan orangtua/ wali agar dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya.
  2. Asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebutt, dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran.
  3. Asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya untuk menjelaskan kemajuan belajar, menentukan keputusan tentang langkah dan sebagai dasar untuk menyusun program pembelajaran yang sesuai selanjutnya.
  4. Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederharna dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai, serta starategi tindak lanjut
  5. Hasil Asesmen digunakan oleh peserta didik, pendidik, tenaga pendidikan, dan orang tua/wali sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

Perencanaan serta Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen

Asesmen dapat dilakukan sejak awal pembelajaran. Asesmen di awal pembelajaran bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, dan hasilnya digunakan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian peserta didik.

Pada pendidikan khusus, asesmen diagnostic dilakukan sebelum perencanaan pembelajaran sebagai rujuan untuk menyusun program pembelajaran individual (PPI).

Pada IKM ini, baik satuan pendidikan dan pendidik diberi keleluasaan dalam menentukan jenis, teknik, bentuk instrument, dan waktu pelaksanaan asesmen, sesuai dengan karakteristik tujuan pembelajaran.

Khusus untuk SMK/MAK, mitra dunia kerja dapat terlibat dalam pelaksanaan asesmen. Mitra dunia kerja dapat mendukung pembelajaran, asesmen, dan uji kompetensi yang selaras dengan prinsip-prinsip asesmen. Satuan pendidikan dan mitra dunia kerja secara kolaboratif dapat melaksanan pembelajaran dan asesmen pada mata pelajaran Praktik Kerja Lapangan atau PKL di jenjang SMK/MAK.

Pelaporan Kemajuan Belajar

Pelaporan hasil belajar atau rapor peserta didik disiapkan oleh Satuan pendidikan. Pelaporan ini dilakukan mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah.

Komponen yang harus ada dalam rapor peserta didik PAUD meliputi: identitas peserta didik, nama satuan pendidikan, kelompok usia, semester, informasi pertumbuhan dan perkembangan anak, deskripsi perkembangan capaian pembelajaran, dan refleksi orang tua. Rapor PAUD juga berisikan informasi tentang hasil capaian anak saat melakukan projek penguatan profil pelajar Pancasila.

Komponen yang harus tertera dalam rapor peserta didik SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat meliputi: identitas peserta didik, nama satuan pendidikan, kelas, semester, mata pelajaran, nilai, deskripsi, catatan guru, presensi, dan kegiatan esktrakurikuler. Pada jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah tersebut, satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk menentukan deskripsi dalam menjelaskan makna nilai yang diperoleh pesert didik.

Pelaporan hasil belajar ini disampaikan sekurang-kurangnya pada setiap akhir semester dan mekanisme pelaporan hasil belajar kepada orang tua ditentukan oleh satuan pendidikan. Dan satuan pendidikan juga menyajikan rapor peserta didik secara berkala dalam dapordik atau e rapor. Untuk menentukan kriteria kenaikan kelas peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah, satuan pendidikan diberikan keleluasaan dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut: laporan kemajuan belajar, laprang pencapaian projek penguatan profil pelajar Pancasila, portofolio peserta didik, paspor keterampilan dan rekognisi pembelajaran lampau khusus peserta didik SMK/MAK, prestasi akademik dan non akademik, ekstrakurikuler, penghargaan peserta didik, dan tingkat kehadiran.

Leave a Reply